Senin, 12 November 2018

PAKAIAN SUCI YANG DIKUCILKAN


Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

“PAKAIAN SUCI YANG DIKUCILKAN”

Aku adalah wanita bercadar, sepertinya tidak ada lagi alasan untuk menjawab “ kenapa aku bercadar”, tapi banyak yang menanyakan pertanyaan seperti itu. Hijrahku baru 2 tahun terakhir ini, membuang semua masa lalu yang kelam, nakal, buruk dan apapun yang menentang ajaran agamaku. Bahkan ketika aku hendak pulang kampung waktu itu, kerabat, keluarga dan teman-temanku  semuanya shok bahkan ada yang tidak mau melihatku lagi dan menentang keras dengan perubahanku ini. Pertanyaan yang sama seperti di atas aku jumpai dari pertama aku mengenakan sampai sekarang ini. Tapi saya tidak merasa kurang ataupun marah dengan itu, bahkan saya ingin menjelaskan secara detail alasan saya mengenakan barang suci tersebut. “kenapa kamu bercadar?”, “cadar itu kan sunnah, jadi kalau tidak dipakai kan nggak apa-apa”. “kok kamu pakai cadar sih ntar cowok nggak ada yang suka sama kamu loh”, “cadar itu membuat cowok-cowok takut”, “kamu ninja yah?”, “kamu teroris yah?”. Well... semua pertanyaan itu telah ku lalui selama ini. Diteriaki dijalanan ada teroris lah, ninja lah, bawa bom lah, bom bunuh diri lah. Sakit sih memang mendengar opini-opini miring masyarakat, tapi sebenarnya mereka tidak tahu, mereka tidak mengerti, alasan kenapa ada akhwat atau perempuan bercadar. Demi melangsungkan kehidupan yang damai, mengurangi angka pemerkosaan serta pembunuhan, menurunkan angka pelecehan seksual, mengurangi Dosa, menjaga pandangan lelaki. Seharusnya mereka tahu itu. Tapi tidak semua masyarakat kontra dengan hal itu, alhamdulillah berkat Bantuan dari Allah Subhanahu Wata’ala masih ada yang mau menerima kami, kami yang salah dimata orang yang jahiliyah. Itulah kenapa sangat penting mempelajari ilmu Agama yang mulia ini. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224).





·          
·          
·          
Ini cerita saat aku balik ke kampung halaman dengan pakaian yang berubah drastis. Betapa susah meminta persetujuan untuk memakai “cadar”. Ayahku sudah meninggal, sudah tak asing lagi jika terjadi apa-apa pasti aku harus melaporkan itu kepada ayah, karena beliau sudah tak ada lagi maka sang kakak lah yang mengemban tanggung jawab itu.

Tahun 2015 semester 1.
Mahasiswa baru disalah satu Universitas di daerah Gorontalo jurusan kimia. Ya itu aku.
Waktu itu usia saya 19 tahun, pertama menginjakkan kaki di daerah ini, saya langsung ingin terjun di dunia pendakwahan, padahal waktu itu saya belum hijrah, dan masih sangat bodoh tentang ajaran Agama Islam.

Singkat cerita, Mata kuliah semester 1 waktu itu ada tentang “Agama”, masyaAllah yang mengajarkan kami adalah seorang ustadz tapi dia dosen dikampus kami. Hari itu beda, dia tidak mengajar kepada kami, malah muridnya yang datang untuk mengajar mata kuliah agama. Seorang akhwat bercadar. Aku baru pertama kali melihat dan sedekat itu. Melihat dengan saksama, untuk orang yang baru pertama kali melihatnya mungkin akan terasa aneh, tapi melihat dia, hati saya nyaman, damai, tenteram, sejuk, bahkan saya bangga menjadi wanita Islam. Saya melihat wahh..betapa cantiknya kakak ini, padahal hanya mata yang ku pandang saat itu, tapi terbesik di hati MasyaAllah... sungguh indah syari’at mu Tuhanku..
Mulai dari situ saya memutuskan untuk ingin sekali memakai cadar, malamnya saya pun menelepon kakakku untuk meminta izin padanya bahwasannya aku ingin sekali memakai cadar.
Saya       : “Halo,Assalamu’alaikum kak?”
Kakak    : ya, wa’alaikumussalam, kenapa dek?
Saya       : ada yang ingin saya katakan.
Kakak    : apa itu?
Saya       : kak, saya ingin memakai cadar (langsung to the point)
Kakak    : hah? Apa? Kenapa? Kok bisa ngomong seperti itu?
Saya       : emang ada yang salah yah?..ayolahh...saya ingin sekali dan saya sudah berniat
kakak    : jangan dulu lah..cadar itu kan budaya Arab, sejarah kenapa perempuan di Arab itu memakai cadar karena disana adalah daerah tandus dan berdebu makanya mereka memakai cadar untuk sekedar menutupi hidung mereka agar tidak dimasuki debu. Di sana kan bukan Arab. Jadi jangan pakai itu yah dek.
Saya       : (karena waktu itu pemahaman agama saya tentang cadar masih minim, saya pun dengan kecewa mengiyakan jawaban dari kakakku itu)..hm..baiklahh kak, yasudah, tapi kak saya ingin memakai itu kelak.
Kakak    : iya, nanti.

Seiring berjalannya waktu, dan semakin aku mencintai pakaian suciku ini, semakin aku ingin mengenal lebih dalam lagi Tuhanku Allah Subhanahu Wata’ala dan agama yang diridhoi-Nya ini. Semakin aku haus akan ilmu agama, semakin ku mencintai teman-teman yang sejiwa denganku, mencari tahu tempat dan harga yang menjual cadar.

Kemudian di tahun 2016 semster 3, ada kajian Tabligh Akbar di masjid kampus, saya pun menghadirinya dengan perasaan yang bahagia. Aku terhenti di depan halaman masjid karena melihat “cadar” yang dijual. Saya pikir apa salahnya hanya melihat-lihat bentuk dan harganya. Saya pun menegur penjualnya “Ummu (ibu), cadarnya ada?, “oh ya, ada. (sembari mengambil cadar yang berada di dalam bungkusan, berwarna hitam dengan kain wolfis, yang sangat lembut, dia memperlihatkannya padaku.), ini cadarnya ukhti.. belum juga saya menjawab, ummu tersebut langsung memakaikannya padaku, dia pun bilang, MasyaAllah ukhti, kamu cantik sekali..MasyaAllah.. aku tidak berpikiran buruk apakah ummu ini memujiku karena hanya ingin dagangannya laris saja. Tapi seketika air mataku jatuh, aku menangis dengan air mata yang deras, dan ku tautkan bibirku agar tidak bersuara (karena pada saat itu sangat ramai), ummu tersebut langsung memelukku dan berkata “ kenapa kamu menangis?, apa ada yang salah?”. Aku ingin menjawab pertanyaan itu tapi bibirku tak mau dibuka, aku hanya bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepala bermaksud berkata “tidak, tidak apa-apa”. Ummu itu pun langsung menenangkan aku dengan memberikan air mineral sembari mengusap-usap punggungku “sudah...tenang.. tenangkan dulu baru cerita”,  beberapa menit aku menenangkan sambil mengusap-usap mataku dengan jilbab dan sudah basah. Qaddarullah waktu itu uang saya tinggal 50.000 dan itu uang jajan. Saya memutuskan untuk membeli cadar itu dengan bentuk yang berbeda, satu cadar bandana dan satunya lagi cadar tali. Totalnya kalau tidak salah 40.000. jadi sisa uangku tinggal 10.000 sembari memikirkan besok nanti makan apa, jajan apa. Ah..ku tepis pikiran itu sambil memeluk cadar yang kubeli bahkan cadar bandana yang tadi tak ku lepas-lepas. Aku sudah berniat di hari itu untuk memakai cadar tanpa tahu resikonya nanti bagaimana, aku tidak perduli. Aku bahagia, sudah memenuhi niatku hijrah di Jalan Allah, tak meminta izin kepada ibu dan kakak beserta keluarga, jilbab panjangku terbatas, gamisku terbatas. Aku sudah tidak memikirkan akan hal itu, dengan modal Niat dan “Bismillahirrahmanirrahim” aku melanjutkan hijrahku dengan sepenuh hati. Keesokan harinya aku pergi ke kampus, waktu itu mahasiswi yang bercadar dijurusan ku hanya 2 orang , senior dan saya sendiri.  Aku masuk kelas, tapi terlambat. Yah sudahhlah saya tetap masuk dan pas setelah saya masuk, semua mata tertuju pada apa yang aku kenakan. Aku diam saat itu, tidak ada yang bersuara. Selesai jam kuliah semua mengerumuniku, dengan beratus-ratus pertanyaan salah satunya “kenapa kamu pakai cadar?”. Tapi walaupun mereka menanyaiku dengan ratusan pertanyaan saya bahagia karena mereka masih menerimaku. Malamnya aku mengabari kakakku bahwa saya meminta maaf sebesar-besarnya karena sudah memakai cadar tanpa sepengetahuannya tapi lagi-lagi Allah membantuku dengan melembutkan hati kakakku, “yasudah, tidak apa-apa. Kakak hanya ingin sampaikan kalau sudah seperti itu kamu harus berubah, kamu harus menjadi lebih baik lagi, perilakumu, sifatmu, dan semoga kamu akan terus istiqomah”, saya menangis terharu.

Waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun berganti tahun aku tetap konsisten, aku tetap istiqomah memakai cadar. Sampai akhirnya aku pulang kampung, dengan perasaan yang penuh was-was dan takut dengan apa yang akan terjadi nanti, hanya pertolongan Allah yang ku butuhkan saat itu. Kaki telah berpijak di negeri kelahiranku, ibuku menunggu didepan pintu, aku berlari dan memeluknya. Entah apa, pada saat itu aku bingung, hm.. kok, kayaknya ada yang salah, kenapa ibu diam saja? Aku pun menanyakan ibu, ini namanya cadar, saya sudah memakai cadar ini setengah tahun, tidak apa-apa kan? Alhamdulillah, mungkin ibuku ingin menjaga perasaanku beliau menjawab tidak apa-apa nak. Kamu tetaplah anakku. Perubahan pakaianmu tak begitu mengusikku, tapi ibu sakit hati dengan perkataan orang mengenai dirimu. Ibu tak tahu lagi ingin menjawab pertanyaan mereka seperti apa. Aku merenung, ah sudahlah ibu, sekarang saya sudah di sini jika ada yang bertanya insyaAllah akan ku jawab agar mereka paham. Dan benar saja ada saja yang datang di rumahku awalnya ingin bersilaturahmi tapi malah jadi cibiran, dan ocehan receh yang membuat telingaku sakit, dan marah. Tapi jika aku memenuhi nafsuku itu maka apa gunanya saya memakai pakaian ini jika perilaku ku sama seperti dulu. Maka aku hanya menghembuskan nafas dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang mereka lemparkan padaku.
Keesokan harinya dikampung, saya ingin bersilaturahmi ke rumah tanteku, baru saja aku masuk di rumahnya, mereka langsung menatapku sinis, dan tanpa memikirkan perasaanku mereka ingin aku melepaskan cadar saat itu juga, jika tidak maka jangan menemui atau kerumahnya lagi. Ingin sekali aku menangis sekencang-kencangnya. Dan aku pernah beripikir, sekejam ini kah dampak dari cadar ini?, atau aku lepaskan saja?. Seperti ada yang berbisik padaku, kejam sekali kamu, lebih mementingkan perkataan orang dan melanggar niatmu kepada Allah!!.
Perlahan-lahan saya bercerita dengan tante saya dengan penuh adab dan kesopanan tingkat tinggi, dan itu bukan sama sekali aku yang dulu. Merekapun diam, sembari mendengar apa yang aku katakan, aku bilang pada mereka bahwasannya saya seperti ini bukan karena apa-apa seperti yang kalian pikirkan, aku seperti ini bukan karena mengikuti ajaran dan aliran sesat, bukan karena paksaan atau keterpaksaan, bukan ingin terlihat alim, apalagi ingin menakuti-nakuti para ikhwan, bahkan tidak untuk menjauhi jodohku. Aku bilang pada mereka, tante.. jodoh Allah yang sudah mengaturnya, tante pasti tau, karena tante kan guru Agama. Tante berpikiran laki-laki takut melihatku dan tidak akan mendapatkan jodoh. Sesungguhnya tidak tante, maka apabila laki-laki tidak mau menikahiku karena penampilanku maka dia adalah bukan jodoh terbaik yang Allah berikan padaku, dan dia adalah bukan tipeku karena tidak mencintai syariat Islam, berarti dia tidak mencintai sunnah Rasulullah, dan Allah akan memberikan jodoh yang sepadan denganku. Tanteku tertegun mendengar pernyataanku, sepertinya ia sadar, bahwa penampilan yang dia pikirkan adalah bukan dasar dari kebahagiaan dan ketentraman rumah tangga.

Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah untuk wanita wanita yang keji pula. Dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik adalah untuk wanita wanita yang baik pula”. (QS An Nur : 26).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Dan janganlah kamu menikahi wanita wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita mmusyrik walaupun dia lebih menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan ijin Nya”. (QS Al Baqarah : 221)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Dan diantara tanda tanda kekuasan Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepasanya, dan dijadikan Nya diantaramu rasa kasih dan sayang”. (QS Ar Rum : 21).


Itu adalah sedikit cerita lika-liku dibalik aku menggunakan cadar dan pakaian syar’i. Sesuatu yang indah di mata Allah memang tak selalu indah di mata manusia, tapi apalah arti dari itu semua. Tetap, yang menciptakan adalah selalu nomor 1, apapun yang terjadi.
Untuk akhwat yang hijrah, terima kasih karena sudah memenuhi syari’at agamamu, dan untuk wanita bercadar terima kasih karena perjuanganmu untuk menundukkan pandangan lelaki sudah engkau jalankan. Tetap semangat, dan tetap istiqomah di jalan Allah, karena semua apa yang kita kerjakan dimuka bumi akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Catatan khusus ku untuk engkau ukhti yang belum hijrah... ayolahh, ku ajak engkau sama-sama menuju syurgaNya Allah, aku tidak mau ke syurga sendirian dan ku biarkan engkau pergi ke jalan yang lain, sekalipun kita tidak saling kenal, tapi melalui tulisan ku ini aku ingin mengajak saudariku untuk berubah. Berubah untuk menjadi manusia yang baik, manusia yang indah dimata Allah, berhijab itu cantik lohh ukhti..Allah akan menerima taubat hambaNya kapan saja, dan Allah tidak memilih-milih hambaNya yang ingin bertaubat, ukhti..selagi masih ada waktu. Ayo..ayo.. mari kita hijrah sama-sama.
Allahuakbar..allahuakbar...allahuakbar... aku mencintaimu karena Allah. J

DARI WANITA PENUH DOSA DWI FAZRIANI. #ayohijrah #nusaybah #anauhibbukifillah #sunnahRasulullah #hijrah #gohijrah

1 komentar:

  1. sudah seperti itu, yang penting mah istiqomah terus yah ukhti. do'akan supaya saya juga akan menyusul untuk hijrah. :)

    BalasHapus