Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..
“PAKAIAN SUCI
YANG DIKUCILKAN”
Aku adalah wanita bercadar, sepertinya tidak
ada lagi alasan untuk menjawab “ kenapa aku bercadar”, tapi banyak yang
menanyakan pertanyaan seperti itu. Hijrahku baru 2 tahun terakhir ini, membuang
semua masa lalu yang kelam, nakal, buruk dan apapun yang menentang ajaran
agamaku. Bahkan ketika aku hendak pulang kampung waktu itu, kerabat, keluarga
dan teman-temanku semuanya shok bahkan
ada yang tidak mau melihatku lagi dan menentang keras dengan perubahanku ini. Pertanyaan
yang sama seperti di atas aku jumpai dari pertama aku mengenakan sampai
sekarang ini. Tapi saya tidak merasa kurang ataupun marah dengan itu, bahkan saya
ingin menjelaskan secara detail alasan saya mengenakan barang suci tersebut. “kenapa
kamu bercadar?”, “cadar itu kan sunnah, jadi kalau tidak dipakai kan nggak
apa-apa”. “kok kamu pakai cadar sih ntar cowok nggak ada yang suka sama kamu
loh”, “cadar itu membuat cowok-cowok takut”, “kamu ninja yah?”, “kamu teroris
yah?”. Well... semua pertanyaan itu telah ku lalui selama ini. Diteriaki dijalanan
ada teroris lah, ninja lah, bawa bom lah, bom bunuh diri lah. Sakit sih memang
mendengar opini-opini miring masyarakat, tapi sebenarnya mereka tidak tahu,
mereka tidak mengerti, alasan kenapa ada akhwat atau perempuan bercadar. Demi melangsungkan
kehidupan yang damai, mengurangi angka pemerkosaan serta pembunuhan, menurunkan
angka pelecehan seksual, mengurangi Dosa, menjaga pandangan lelaki. Seharusnya mereka
tahu itu. Tapi tidak semua masyarakat kontra dengan hal itu, alhamdulillah
berkat Bantuan dari Allah Subhanahu Wata’ala masih ada yang mau menerima kami,
kami yang salah dimata orang yang jahiliyah. Itulah kenapa sangat penting
mempelajari ilmu Agama yang mulia ini. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Menuntut ilmu
itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu
Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih
wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224).
·
·
·
Ini cerita saat aku balik ke kampung halaman
dengan pakaian yang berubah drastis. Betapa susah meminta persetujuan untuk
memakai “cadar”. Ayahku sudah meninggal, sudah tak asing lagi jika terjadi
apa-apa pasti aku harus melaporkan itu kepada ayah, karena beliau sudah tak ada
lagi maka sang kakak lah yang mengemban tanggung jawab itu.
Tahun 2015 semester 1.
Mahasiswa baru disalah satu Universitas di
daerah Gorontalo jurusan kimia. Ya itu aku.
Waktu itu usia
saya 19 tahun, pertama menginjakkan kaki di daerah ini, saya langsung ingin
terjun di dunia pendakwahan, padahal waktu itu saya belum hijrah, dan masih
sangat bodoh tentang ajaran Agama Islam.
Singkat cerita, Mata kuliah semester 1 waktu
itu ada tentang “Agama”, masyaAllah yang mengajarkan kami adalah seorang ustadz
tapi dia dosen dikampus kami. Hari itu beda, dia tidak mengajar kepada kami,
malah muridnya yang datang untuk mengajar mata kuliah agama. Seorang akhwat
bercadar. Aku baru pertama kali melihat dan sedekat itu. Melihat dengan
saksama, untuk orang yang baru pertama kali melihatnya mungkin akan terasa
aneh, tapi melihat dia, hati saya nyaman, damai, tenteram, sejuk, bahkan saya
bangga menjadi wanita Islam. Saya melihat wahh..betapa cantiknya kakak ini,
padahal hanya mata yang ku pandang saat itu, tapi terbesik di hati
MasyaAllah... sungguh indah syari’at mu Tuhanku..
Mulai dari situ saya memutuskan untuk ingin
sekali memakai cadar, malamnya saya pun menelepon kakakku untuk meminta izin
padanya bahwasannya aku ingin sekali memakai cadar.
Saya : “Halo,Assalamu’alaikum kak?”
Kakak : ya, wa’alaikumussalam, kenapa dek?
Saya : ada yang ingin saya katakan.
Kakak : apa itu?
Saya : kak, saya ingin memakai cadar (langsung
to the point)
Kakak : hah? Apa? Kenapa? Kok bisa ngomong seperti
itu?
Saya : emang ada yang salah yah?..ayolahh...saya
ingin sekali dan saya sudah berniat
kakak : jangan dulu lah..cadar itu kan budaya Arab,
sejarah kenapa perempuan di Arab itu memakai cadar karena disana adalah daerah
tandus dan berdebu makanya mereka memakai cadar untuk sekedar menutupi hidung
mereka agar tidak dimasuki debu. Di sana kan bukan Arab. Jadi jangan pakai itu
yah dek.
Saya : (karena waktu itu pemahaman agama saya
tentang cadar masih minim, saya pun dengan kecewa mengiyakan jawaban dari
kakakku itu)..hm..baiklahh kak, yasudah, tapi kak saya ingin memakai itu kelak.
Kakak : iya, nanti.
Seiring berjalannya waktu, dan semakin aku
mencintai pakaian suciku ini, semakin aku ingin mengenal lebih dalam lagi
Tuhanku Allah Subhanahu Wata’ala dan agama yang diridhoi-Nya ini. Semakin aku
haus akan ilmu agama, semakin ku mencintai teman-teman yang sejiwa denganku,
mencari tahu tempat dan harga yang menjual cadar.
Kemudian di tahun
2016 semster 3, ada kajian Tabligh Akbar di masjid kampus, saya pun
menghadirinya dengan perasaan yang bahagia. Aku terhenti di depan halaman
masjid karena melihat “cadar” yang dijual. Saya pikir apa salahnya hanya
melihat-lihat bentuk dan harganya. Saya pun menegur penjualnya “Ummu (ibu),
cadarnya ada?, “oh ya, ada. (sembari mengambil cadar yang berada di dalam
bungkusan, berwarna hitam dengan kain wolfis, yang sangat lembut, dia
memperlihatkannya padaku.), ini cadarnya ukhti.. belum juga saya menjawab, ummu
tersebut langsung memakaikannya padaku, dia pun bilang, MasyaAllah ukhti, kamu
cantik sekali..MasyaAllah.. aku tidak berpikiran buruk apakah ummu ini memujiku
karena hanya ingin dagangannya laris saja. Tapi seketika air mataku jatuh, aku
menangis dengan air mata yang deras, dan ku tautkan bibirku agar tidak bersuara
(karena pada saat itu sangat ramai), ummu tersebut langsung memelukku dan
berkata “ kenapa kamu menangis?, apa ada yang salah?”. Aku ingin menjawab
pertanyaan itu tapi bibirku tak mau dibuka, aku hanya bergumam sambil
menggeleng-gelengkan kepala bermaksud berkata “tidak, tidak apa-apa”. Ummu itu
pun langsung menenangkan aku dengan memberikan air mineral sembari
mengusap-usap punggungku “sudah...tenang.. tenangkan dulu baru cerita”, beberapa menit aku menenangkan sambil
mengusap-usap mataku dengan jilbab dan sudah basah. Qaddarullah waktu itu uang
saya tinggal 50.000 dan itu uang jajan. Saya memutuskan untuk membeli cadar itu
dengan bentuk yang berbeda, satu cadar bandana dan satunya lagi cadar tali. Totalnya
kalau tidak salah 40.000. jadi sisa uangku tinggal 10.000 sembari memikirkan
besok nanti makan apa, jajan apa. Ah..ku tepis pikiran itu sambil memeluk cadar
yang kubeli bahkan cadar bandana yang tadi tak ku lepas-lepas. Aku sudah berniat
di hari itu untuk memakai cadar tanpa tahu resikonya nanti bagaimana, aku tidak
perduli. Aku bahagia, sudah memenuhi niatku hijrah di Jalan Allah, tak meminta
izin kepada ibu dan kakak beserta keluarga, jilbab panjangku terbatas, gamisku
terbatas. Aku sudah tidak memikirkan akan hal itu, dengan modal Niat dan “Bismillahirrahmanirrahim”
aku melanjutkan hijrahku dengan sepenuh hati. Keesokan harinya aku pergi ke
kampus, waktu itu mahasiswi yang bercadar dijurusan ku hanya 2 orang , senior
dan saya sendiri. Aku masuk kelas, tapi
terlambat. Yah sudahhlah saya tetap masuk dan pas setelah saya masuk, semua
mata tertuju pada apa yang aku kenakan. Aku diam saat itu, tidak ada yang
bersuara. Selesai jam kuliah semua mengerumuniku, dengan beratus-ratus
pertanyaan salah satunya “kenapa kamu pakai cadar?”. Tapi walaupun mereka
menanyaiku dengan ratusan pertanyaan saya bahagia karena mereka masih
menerimaku. Malamnya aku mengabari kakakku bahwa saya meminta maaf
sebesar-besarnya karena sudah memakai cadar tanpa sepengetahuannya tapi
lagi-lagi Allah membantuku dengan melembutkan hati kakakku, “yasudah, tidak
apa-apa. Kakak hanya ingin sampaikan kalau sudah seperti itu kamu harus
berubah, kamu harus menjadi lebih baik lagi, perilakumu, sifatmu, dan semoga
kamu akan terus istiqomah”, saya menangis terharu.
Waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi
bulan, tahun berganti tahun aku tetap konsisten, aku tetap istiqomah memakai
cadar. Sampai akhirnya aku pulang kampung, dengan perasaan yang penuh was-was
dan takut dengan apa yang akan terjadi nanti, hanya pertolongan Allah yang ku
butuhkan saat itu. Kaki telah berpijak di negeri kelahiranku, ibuku menunggu
didepan pintu, aku berlari dan memeluknya. Entah apa, pada saat itu aku
bingung, hm.. kok, kayaknya ada yang salah, kenapa ibu diam saja? Aku pun
menanyakan ibu, ini namanya cadar, saya sudah memakai cadar ini setengah tahun,
tidak apa-apa kan? Alhamdulillah, mungkin ibuku ingin menjaga perasaanku beliau
menjawab tidak apa-apa nak. Kamu tetaplah anakku. Perubahan pakaianmu tak
begitu mengusikku, tapi ibu sakit hati dengan perkataan orang mengenai dirimu. Ibu
tak tahu lagi ingin menjawab pertanyaan mereka seperti apa. Aku merenung, ah
sudahlah ibu, sekarang saya sudah di sini jika ada yang bertanya insyaAllah
akan ku jawab agar mereka paham. Dan benar saja ada saja yang datang di rumahku
awalnya ingin bersilaturahmi tapi malah jadi cibiran, dan ocehan receh yang
membuat telingaku sakit, dan marah. Tapi jika aku memenuhi nafsuku itu maka apa
gunanya saya memakai pakaian ini jika perilaku ku sama seperti dulu. Maka aku
hanya menghembuskan nafas dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang mereka
lemparkan padaku.
Keesokan harinya dikampung, saya ingin
bersilaturahmi ke rumah tanteku, baru saja aku masuk di rumahnya, mereka
langsung menatapku sinis, dan tanpa memikirkan perasaanku mereka ingin aku melepaskan
cadar saat itu juga, jika tidak maka jangan menemui atau kerumahnya lagi. Ingin
sekali aku menangis sekencang-kencangnya. Dan aku pernah beripikir, sekejam ini
kah dampak dari cadar ini?, atau aku lepaskan saja?. Seperti ada yang berbisik
padaku, kejam sekali kamu, lebih mementingkan perkataan orang dan melanggar
niatmu kepada Allah!!.
Perlahan-lahan saya bercerita dengan tante
saya dengan penuh adab dan kesopanan tingkat tinggi, dan itu bukan sama sekali
aku yang dulu. Merekapun diam, sembari mendengar apa yang aku katakan, aku
bilang pada mereka bahwasannya saya seperti ini bukan karena apa-apa seperti
yang kalian pikirkan, aku seperti ini bukan karena mengikuti ajaran dan aliran
sesat, bukan karena paksaan atau keterpaksaan, bukan ingin terlihat alim,
apalagi ingin menakuti-nakuti para ikhwan, bahkan tidak untuk menjauhi jodohku.
Aku bilang pada mereka, tante.. jodoh Allah yang sudah mengaturnya, tante pasti
tau, karena tante kan guru Agama. Tante berpikiran laki-laki takut melihatku
dan tidak akan mendapatkan jodoh. Sesungguhnya tidak tante, maka apabila
laki-laki tidak mau menikahiku karena penampilanku maka dia adalah bukan jodoh
terbaik yang Allah berikan padaku, dan dia adalah bukan tipeku karena tidak
mencintai syariat Islam, berarti dia tidak mencintai sunnah Rasulullah, dan
Allah akan memberikan jodoh yang sepadan denganku. Tanteku tertegun mendengar
pernyataanku, sepertinya ia sadar, bahwa penampilan yang dia pikirkan adalah
bukan dasar dari kebahagiaan dan ketentraman rumah tangga.
Allah subhanahu
wata’ala berfirman : “Wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan
laki laki yang keji adalah untuk wanita wanita yang keji pula. Dan wanita
wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik
adalah untuk wanita wanita yang baik pula”. (QS An Nur : 26).
Allah Subhanahu wata’ala
berfirman : “Dan janganlah kamu menikahi wanita wanita
musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita wanita budak yang mukmin
lebih baik dari wanita mmusyrik walaupun dia lebih menarik hatimu. Mereka
mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan ijin Nya”.
(QS Al Baqarah : 221)
Allah Subhanahu wata’ala
berfirman : “Dan diantara tanda tanda kekuasan Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepasanya, dan dijadikan Nya diantaramu rasa kasih dan sayang”. (QS Ar
Rum : 21).
Itu adalah sedikit cerita lika-liku dibalik aku menggunakan cadar dan
pakaian syar’i. Sesuatu yang indah di mata Allah memang tak selalu indah di
mata manusia, tapi apalah arti dari itu semua. Tetap, yang menciptakan adalah
selalu nomor 1, apapun yang terjadi.
Untuk akhwat yang hijrah, terima kasih karena sudah memenuhi syari’at
agamamu, dan untuk wanita bercadar terima kasih karena perjuanganmu untuk
menundukkan pandangan lelaki sudah engkau jalankan. Tetap semangat, dan tetap
istiqomah di jalan Allah, karena semua apa yang kita kerjakan dimuka bumi akan
dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Catatan khusus ku untuk engkau ukhti yang belum hijrah... ayolahh, ku
ajak engkau sama-sama menuju syurgaNya Allah, aku tidak mau ke syurga sendirian
dan ku biarkan engkau pergi ke jalan yang lain, sekalipun kita tidak saling
kenal, tapi melalui tulisan ku ini aku ingin mengajak saudariku untuk berubah. Berubah
untuk menjadi manusia yang baik, manusia yang indah dimata Allah, berhijab itu
cantik lohh ukhti..Allah akan menerima taubat hambaNya kapan saja, dan Allah
tidak memilih-milih hambaNya yang ingin bertaubat, ukhti..selagi masih ada
waktu. Ayo..ayo.. mari kita hijrah sama-sama.
Allahuakbar..allahuakbar...allahuakbar... aku mencintaimu karena Allah.
J
DARI WANITA PENUH DOSA DWI FAZRIANI. #ayohijrah #nusaybah #anauhibbukifillah #sunnahRasulullah #hijrah #gohijrah